Semua diskusi dan obrolan tentang ’65, PKI, dan komunisme di Indonesia, akan cenderung mubazir dan menghabis-habiskan energi apabila tidak menyentuh satu atau beberapa pertanyaan berikut:

*Sejauh mana isu komunisme menghasilkan keuntungan ekonomi-politik bagi kelas-kelas yang berkuasa secara ekonomi hari ini — dan tak melulu elite-elite Jakarta yang berkepentingan maju 2019?

Sebagai contoh, sejauh mana pengaruh isu ini terhadap rasi oligarki bernama “9 Naga”, atau pada kelangsungan proyek Meikarta dan proyek-proyek infrastruktur lainnya.

*Sejauh mana isu komunisme berhasil mengagitasi kesadaran kelas pekerja — termasuk kaum kognitariat, para intelektual pekerja (dosen, mahasiswa, penulis, dll.) — dalam mengimajinasikan kembali tatanan baru di mana sosialisme adalah mungkin, dan tak sekadar mempertahankan kebebasan dalam demokrasi liberal saat ini?

Pertanyaan ini penting, karena isu ini mulai berhasil mendorong percakapan lebih luas dalam ruang publik, khususnya kalangan intelektual, tetapi belum mampu menyentuh kesadaran massa yang lebih luas, kecuali menyulut reaksi yang tidak kritis bahkan intimidatif.

*Sejauh mana isu komunisme berhasil mendorong siapa saja untuk melihat seberapa “kapitalis” dan seberapa “komunistik”-nya corak-corak produksi ekonomi yang sedang berkembang di Indonesia, yaitu dilihat dari pergeseran-pergeseran pola dan struktur ekonomi di era krisis saat ini, khususnya dalam ranah kepemilikan pribadinya (private ownership)?

Ketiga pertanyaan ini barangkali penting untuk membawa diskusi tentang komunisme dari konteks ideologisnya yang kontestatif ke ranah materialisnya, ranah yang jarang dibidik oleh berbagai suara dan hiruk-pikuk soal “kebangkitan komunisme” beberapa waktu belakangan ini.

sumber: facebook.com/fayyadl

loading...