Belajar Mencintai Anak Kos

Hari ini, barangkali akulah makhluk tuhan paling seksi malang di dunia. Jalan sendirian di bawah mendung yang ingin segera turun dengan kaki yang linu karena kemarin kena tekel waktu main futsall dan kepala puyeng mikirin Barcelona kalah beruntun sementara UKT tidak mau turun. Ah, bukan sendirian ding. Aku bersama sepeda yang meletus ban belakangnya. Padahal jelas sekali, jam kuliah sudah telat sekitar seperempat jam. Aku membayangkan jika menuntun sepeda ini diteruskan  sampai kampus hanya akan menemui kesia-siaan. Dosen hanya memberi kelonggaran waktu tidak lebih dari lima belas menit. Dosen mah emang gitu.

Jika waktu itu kebetulan ada mbak-mbak gemes bertanya, maka sudah sejak dalam pikiran aku menyiapkan jawaban yang bijak.

“Mas, kok dituntun aja?”

“Iya. Ban sepeda ngambek.”

“Kok nggak ditambal?”

“Meletus, Mbak.”

“Kok nggak diganti ban aja?”

“Nggak sanggup dompetnya, Mbak.”

“Oh. Ini ada sedikit uang untuk ke bengkel.”

“Terimakasih, Mbak.”

Tetapi, ini tidak mungkin terjadi. Sebab, mbak-mbak jarang ada yang begituan. Kalau sudah naik motor, tidak mungkin lihat kiri-kanan. Paling-paling yang bertanya orang tua yang secara tidak sengaja lewat. Dan aku sebagai mahasiswa berjiwa muda tidak mau merepotkan orang tua. Aish.

Sepeda masih kutuntun dan hujan mulai turun. Aku berteduh di beranda warung dan bukan pada sehelai daun pisang sambil menggandeng pasangan. Duh, alamat tidak masuk kuliah beruntun. Padahal di absen sudah dua kali kosong. Di situlah kadang aku ingin teriak di telinga dosen: kenapa cuma diberi kesempatan tiga kali tidak masuk tanpa izin, padahal Anda sering tidak masuk. Kenapa!

Abaikan.
Warung kecil ini tutup. Entah kenapa tutup. Aku sama sekali tidak tahu. Apa kalah rame sama dominasi minimarket sebelah atau tanahnya sedang ada masalah perbatasan dengan hotel yang baru dibangun?

Dan sungguh mulia warung ini, meski tutup, tetapi masih menyediakan beranda untuk berteduh. Terutama hari ini, menyediakan tempat untukku duduk memikirkan bagaimana caranya bisa pulang ke kos yang jauhnya kira-kira sepuluh meter dari sini. Memberi kesempatan aku duduk melepas lelah. Melepas segala rindu dendam dan kenangan. Halah.

Di depan warung ini ada kos-kosan sederhana. Jika kuperinci lagi, di depan warung ini ada selokan, lalu ada jalan raya, lalu ada selokan lagi, lalu baru ada kos-kosan. Mataku tertambat di situ. Tepatnya pada tempat jemuran baju. Kasihan baju-baju itu, kehujanan tanpa tahu bagaimana caranya berteduh. Mereka pasrah menanggung basah. Dasar baju yang tak punya jiwa pemberontak! Dasar baju yang tak pernah baca petuah Camus, aku berontak maka aku ada.

Ting! Loh, tiba-tiba aku ingat sesuatu. Aku punya teman yang tinggal di kos, ngapain harus bingung nanti pulangnya gimana. Kini, sebagai mahasiswa yang sudah belajar doa-doa, aku berdoa agar hujan cepat reda. Dan aku akan cepat-cepat ke sana.

Tapi doaku memang tidak manjur. Hujan makin deras mengguyur. Bagaimanapun juga, aku harus merelakan diri untuk tabah atas segala godaan setan yang terkutuk untuk memaki-maki. Dengan wajah khas para penunggu, aku menunggu hujan menghilang dari hadapanku.

Akhirnya, kalau dalam perkiraan waktu, kira-kira satu jam kurang lima detik, hujan reda.
Dari sinilah aku mengambil kesimpulan: selama apa pun kau menunggu seseorang, pasti suatu saat nanti akan menemukan jawaban.

Yah, walaupun hujan bukan seseorang sih.

***

Dalam cerita ini, tidak mungkin aku jabarkan semua perjalanan saat menuntun sepeda ke kos teman. Seperti kaki yang tidak sengaja menyandung batu, mata yang melihat ini itu, semut kecil yang menggigit dengan mulutnya yang kecil di tanganku sehingga sedikit mengganggu perjalanan, dan sebagainya dan sebagainya.

Kos temanku pintunya terbuka dan aku langsung ke sana. Belum sampai pintu, ia melongok seolah sebelumnya tahu kalau akan ada tamu.

“Loh, Ndul? Sepedamu kenapa?” tanyanya.

“Bannya meletus, Nggil.”

“Oh. Masuk-masuk. Ngrokok-ngrokok dulu.”

Tenggil ini teman di organisasi pergerakan. Suka demo tapi tidak suka orasi. Kosnya penuh dengan tempelan poster-poster tokoh kiri. Aku duduk menyulut rokok sambil memandangi poster-poster yang sudah mulai kusam itu. Che, Tan, Lenin, Marx, Mao. Hidih, ngeri.

Ia, seperti yang kuduga, menggerutu. Membahas kampus yang panas, AC mati, dosen jarang masuk (padahal dirinya sendiri dalam sebulan masuk kampus tidak lebih dari enam kali), permasalahan UKT tidak ditanggapi, dosen yang membosankan, pemilwa yang gaduh, LPM yang tunduk, kegiatan ekstra yang menjemukan, dan lain sebagainya. Aku menanggapi apa yang dibicarakannya. Aku membahas kota yang panas. Banyak mesin-mesin bising. Jalanan tampak sepi dari sepeda. Sampai akhirnya membahas ban sepedaku yang meletus. Sampai akhirnya mengucapkan ini: kamu ada uang nggak, aku pinjam untuk ganti ban sepeda.

“Haduh, kamu telat, Ndul. Ini udah aku beliin hape baru uangnya.” Aku pun memaklumi. Ia yang rajin update status pastilah membutuhkan hape yang nyaman. “Koreb mungkin ada. Kemarin tulisannya dimuat di media. Itu pake motorku kalo mau ke kosnya. Ayo kalo mau kuanterin!” dan aku menggeleng. Tetapi akhirnya tetep pinjam motor.

***

Sebelum ke kos Koreb, aku ingat pada Kalim. Kalim orangnya mah kaya. Aku berhenti sejenak di depan kos Kalim. Agak jauh. Tapi, pikir-pikir dulu. Temanku pernah pinjam uang sedikit saja nagihnya terus-menerus seperti rentenir. Kalau Koreb, pastilah bersedia meminjami uang. Tapi, lagi-lagi tapi, penulis kan hidupnya susah. Haduh, piye iki.

“Lim!” reflek mulutku mengucapkan itu ketika melihat Kalim nyelonong melewatiku dari belakang. Ia melengos dan tanpa menjawab apa-apa. Wajahnya kusam tidak seperti biasanya. Wajah-wajah galau seperti jomblo di hari Minggu. Niatku surut seketika. Ah, udahlah. “Cuma manggil aja. Hehehe.” Aku ketawa sendiri dan ia pergi.

Selanjutnya...

Aku sampai di kos Koreb. Kos yang sempit penuh debu dan tumpukan buku-buku. Lah, mana si Koreb? Pintu kosnya terbuka. Laptopnya juga. Aku masuk begitu saja.

“Kamu, Ndul? Udah pulang dari kampus?” ia datang dari warung, menenteng nasi bungkus. Aku bilang, tidak masuk kuliah.

“Makan, yuk.”

“Monggo.”

“Ayo.” Ia memaksa. Sungguh-sungguh memaksa. Oke, fine. Aku memang lapar kok.

Dalam beberapa kunyahan, aku bercerita dengan sedikit membingungkan. Sebagai penulis, aku yakin ia paham. Dan benar!

“Habisin dulu ini mah.”

Selesai makan, Koreb berjalan menuju kos di samping kosnya. Di sana ia kedengarannya berbincang-bincang sebentar. Aku curiga, jangan-jangan ia pinjam uang. Duh, betapa nistanya aku!

“Ini, pakai dulu.”

Aku bengong. “Reb,” aku ingin menolak pinjamannya. Kasihan juga dia.

“Udah, pake aja. Serius.”

Lalu, aku melihat ada pelangi di bola matamu, yang membuat diriku... Ah, malah nyanyi. Benarkah Koreb malaikat?

“Ndul. Aku nerusin nulis dulu ya. Mepet deadline. Di sini aja kamu, baca-baca buku.”

Tetapi aku pamit, takut mengganggu. Ia tersenyum padaku dan aku membalas senyumnya. Ragu-ragu.

***

Sebelum kembali ke kos Tenggil, aku mampir di toko. Beli rokok eceran. Tentulah pakai uang pinjaman tadi. Sekadar pemberitahuan tidak penting: Koreb tidak ngrokok. Jadinya aku harus pamit saja cepat-cepat.

Nah, di depan toko itulah, dari kos yang tak jauh, Ganden melambaikan tangan. Kemudian memasang dua jarinya di bibir. Ah, aku paham maksudnya. Aku menyalakan motor, menuju kos Ganden.

“Darimana kamu, Ndul?” tanya temanku yang konon tidak pernah merasakan nasi padang dan gudeg ini. Aku melemparkan sebatang rokok padanya. Ia bilang, masuk ke dalam aja, ada kopi. Ia membuka pintu kos dan aku membuntutinya masuk ke dalam.

“Kos Koreb.” Aku duduk sambil memandangi buku yang berjejer. Temanku yang ini memang rajin beli buku, “Eh, ada buku baru nggak?”

“Sedang miskin, Ndul. Nggak kelar beli buku baru. Kamu punya uang nggak? Aku pinjem.”

Duh!

“Bokek juga, Nden. Ada uang tiga puluh nih. Buat ganti ban sepeda, tadi meletus.”

“Duh.” Ia menggerutu. Nyengir kuda poni.

“Udah makan belum?” tanyaku dan ia menggeleng.

“Beli nasi dulu yuk.” Aku menyodorkan sejumlah uang. Ia langsung berangkat.

Dari sinilah aku dapat pencerahan. Dari sekian banyak teman yang ngekos dan sekian banyak gaya hidup, aku harus belajar mencintai mereka. Seperti pada Ganden, di raknya terdapat banyak koleksi buku Pram, Tan, Marx, Gabriel, Pamuk, Dee, Weber, Sartre, Camus, Eka, Phutut, Soekarno, Murakami, Akutagawa, Celho, Rumi, Iqball, dan lain-lain yang kalau disebutkan semua bikin bibir dower, tetapi di perutnya tidak banyak koleksi makanan.
Ia rela lapar demi buku-buku. Ia rela miskin. Seperti teman-teman kos yang lain.

Mungkin ada lebih banyak lagi anak kos yang perlu dicintai. Orang boleh beda gaya hidup, tetapi selama masih satu nasib menjadi penghuni kos, harus saling memahami. Tentu saja aku mencintaimu mereka semuanya. Apalagi Koreb.

Sambil menghisap rokok, ia bercerita mengenai hidupnya yang makin mlarat tapi masih berusaha untuk membeli buku. Ah, biasa, curhat.

“Sabar ya, Nak, Nyo, kamu telah menjadi mahasiswa yang sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.” Kataku pelan sambil pamit ke kos Tenggil setelah menghabiskan rokok satu batang, ngambil sepeda. Sebelum benar-benar pergi, aku teringat mantan sesuatu. Setelah adegan di kos Ganden, harusnya berakhir dong cerita ini.

Heh, pengarang. Sudah selesai tugasku. Tutup satirnya, cepat! Malu-maluin.

Oke, aku tutup.**

Posting Komentar untuk "Belajar Mencintai Anak Kos"