Anak Kos Sedunia, Bersosial-lah! Sebuah Seruan Yang Wajib Kamu Perhitungkan

Kamu berstatus anak kos? Jika iya, kalian patut bersyukur. Pertama, kalian tentu bebas mengatur cara hidup untuk beberapa waktu. Kedua, menjadi orang yang memiliki status mukim sekaligus perantau dalam satu paket. Dan terakhir, menjadi anak kos berarti menjadi seorang jihadis yang sekecil-kecilnya (mandiri coy).

Mengalami masa ngekos bagi sebagian orang menjadi masa merdeka -dalam hal tanggungjawab sebagai warga masyarakat-. Misal jika ada gawe di lingkungan kosmu, kalian tidak aktif ikut nimbrung mereka, kamu bisa termaklumi dan termaafkan tanpa syarat. Maklum, kan anak kos. Susah ditebak ada dan tidaknya. Adamuhu ka adamihi.

Maksud dari pernyataan diatas sebenarnya merujuk pada status anak kos dalam tatanan bermasyarakat, khususnya dalam urusan bersosial. Sebagai anak kos, kalian tentu memiliki status ganda (mukim-rantau). Kegiatan lingkungan terkadang membuat kamu tidak harus aktif ikut di dalamnya. Tetapi, meskipun kalian itu anak kos (perantau), sudah pasti pak RT setempat tahu jika kamu tinggal di wilayah kekuasaannya (RT).

Jika sudah begini, seharusnya kalian juga aktif dong ikut bersosial dengan aktivitas warga setempat. Jika tidak, ya mendingan kamu pindah tempat dan jangan ngekos dilingkungan masyarakat. Sebagai orang yang bisa mikir, meskipun kalian ini anak kos, toh secara tidak langsung kita juga ikut mengikuti fasilitas yang disediakan warga kampung. Listrik jalan, kebersihan sampah, air dan akses jalan yang kita pakai tentu disediakan oleh dan untuk warga setempat, bukan untuk anak kos semata.

Jadi, sudah sewajarnya kita ikut membantu aktivitas yang diadakan oleh warga kampung. Apa yang dikatakan oleh Pak dhe Kennedy, ada benarnya juga tuh. “Jangan tanyakan apa yang diperbuat oleh kampung terhadap anak kos, tapi tanyalah apa yang dapat diperbuat anak kos terhadap kampungnya”. Sayangnya, Kennedy bukan anak kos, tapi seorang negarawan. Jadi, “anak kos-kampung” diganti dengan “rakyat-negara”.

ANAK KOS SEDUNIA, BERSOSIAL-LAH

Seruan “anak kos sedunia, bersosial-lah !” perlu kiranya kita teriakkan berulang-ulang, mengingat sebagian besar anak kos itu bertipe eksklusif. Dalam artian, anak kos itu minim berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Memang ada beberapa alasan yang membuat anak kos itu jarang berinteraksi dengan warga sekitar, semisal sibuk kerja, kuliah, bisnis, usaha dan lain sebagainya. Tetapi, alasan seperti diatas akan terlihat konyol jika terus menjadi alibi untuk tidak bersosial. Bukankan kita tidak kerja lebih dari 10 jam? Sesibuk-sibuknya anak kos, pasti akan lebih banyak waktu luangnya. Bukan waktu luang sih, tapi waktu yang terbuang dengan aktivitas tak produktif. Tapi namanya juga anak kos. Jangankan warga/RT, orang tua saja terkadang dapat ditipu demi memuluskan tabiat liciknya.
Selama ini, rata-rata anak kos hanya bersosial dengan teman dekat yang dikenalnya. Entah rekan dekat, organisasi ataupun rekan sesama etnis.

Karena hal ini pula, beberapa anak kos seolah terkurung dengan komunitas sesamanya. Meskipun mereka berinteraksi dengan yang lain, akan tetapi itu masih dalam koridor yang sama, yakni bergumul dengan kelompoknya sendiri. Mungkin, sebagian dari mereka akrab dengan orang yang jauh dari kampung kosnya, tetapi anak kos yang seperti ini biasanya justru tak acuh dengan lingkungan sekitar. Bolehlah kalian akrab dengan orang lain, menghabiskan waktu berjam-jam di warung kopi dengan orang-orang hebat, tapi bersosial dengan warga sekitar juga tak kalah hebat bung. Justru kalian akan mendapatkan bonus curhatan hati kaum arus bawah negeri ini. Bagaimana rakyat bawah memandang negara, persoalan politik, ekonomi, sosial dan info terkini negeri ini.

TRIK BERSOSIAL DENGAN MASYARAKAT SEKITAR KOSMU

Jika kalian anak kos, dan masih saja berkata “sulit” untuk bersosial dengan lingkungan setempat, ada kiranya kalian mengikuti trik berikut ini. Itupun dengan catatan jika kalian mau dan berminat.

Bersosial Ala Takmir Tempat Ibadah

Jalan nomor satu ini biasanya dilakukan oleh anak kos “alim”, yang mau ikut beribadah secara jamaah dengan warga setempat. Selain sibuk dengan aktivitasnya sendiri, anak tipe alim ini selalu menyempatkan untuk berkumpul dengan warga melalui kegiatan agama. Misal, kalian yang beragama Islam, akan aktif di masjid dengan menjadi guru ngaji dan sebagainya. Secara tidak langsung, aktivitas di tempat ibadah ini membuat kalian bergumul dengan orang yang berbeda karakter, meskipun sama dalam beragama.
Nyrawung (bersosial) lewat tempat ibadah ini efektif untuk mendekatkan kalian dengan warga sekitar.
Di Indonesia, segala sesuatu, meskipun itu jelek, akan terlihat baik jika dibungkus dengan kata “ibadah”. Tetangga mana yang tidak simpatik jika kalian ini adalah anak yang alim dan gak neko-neko (aneh-aneh). Meskipun kalian ini seorang penjahat sekalipun, masyarakat akan terkesima jika melihat kalian aktif di tempat ibadah. Tapi model bersosialisasi ini ringan-ringan berat. Ringan karena tanpa modal (biaya), dan berat karena menuntut ke-konsisten-an dirimu. Jika kalian hanya rajin di awal dan malas untuk mengajegkan, ya jangan harap stigma “anak alim” ini melekat di diri kalian. Harapan untuk nyrawung pun semakin sulit dilakukan.

Jika tidak, kalian dapat menempuh jalan lain, yakni menjadi guru/contoh bagi anak-anak sekitar kosmu. Yang paling enteng, yo ajari lah beberapa anak kecil untuk menyelesaikan tugas sekolahnya. Dijamin, orang tua anak tersebut akan respect terhadap anda. Logikanya simpel sekali. Orang tua mana yang tidak klepek-klepek pada kalian jika kalian menyayangi, mendidik dan membantu buah hatinya untuk bertambah maju? Jika kalian sudah membantu anaknya, tetapi orang tuanya masih mengucilkanmu, berarti orang tuanya yang perlu kalian ajari. Bisa jadi orang tua anak tersebut telah terjerumus ke dalam jurang kekhalifahan, eh, kekhilafan dab.

Mulai Dari Warung Hingga Obrolan Harga Cabai di Pasar

Susah juga ya pak jadi anak kos itu..

Ah, tipe sosial ini cocok bagi kalian yang bertipe “kepo/bawel”. Modal utamanya hanya mental dan pintar berkata-kata. Aplikasi praktisnya, tatkala beli makan di angkringan, sempatkanlah ngepoin penjualnya. Ya sekedar nanya harga sembako, sayur dan kebutuhan untuk berdagang lainnya. Jika penjualnya aktif menanggapi obrolanmu, berarti umpan basa-basimu berhasil. Trik ini sangat mainstream digunakan oleh banyak orang. Dengan “mengambil” hati lawan bicara, maka secara langsung si lawan akan masuk perangkap dan akrab dengan kita. Efek positif selanjutnya, kalian akan berteman baik dan selalu bertutur sapa jika bertemu. Bonusnya, kalian bisa ngutang di akhir bulan jika tak ada uang untuk makan. Penak to dab?
Kesulitan bersosial tipe ini adalah jika lawan bicaramu pendiam. Adem nyenyet (beku, tidak welcome).
Jika seperti ini keadaannya, maka yang kalian butuhkan adalah kesabaran dan sering menyapa. Toh, lama-lama juga akan akrab dengan sendirinya. Mengakrabi masyarakat lapisan bawah (penjual angkringan salah satunya) merupakan hal primer yang tak kalah penting untuk anak kos jajaki. Ya, selain menawarkan keramahan dan kemurahan, mendengar obrolan masyarakat bawah itu melatih kalian untuk peka dan mengerti persoalan wong cilik. Misalkan harga kebutuhan hidup mengalami kenaikan, maka yang paling merasakan adalah masyarakat bawah. Disinilah, manfaat lain jika kalian ngobrol dengan mereka. Kalian akan memiliki teman yang sama-sama tertindas (dalam hal ini, anak kos terkategorikan masyarakat bawah). Syukur-syukur kamu menemukan atau justru diberi tahu trik jitu menghadapi sulitnya bertahan hidup sebagai anak kos-kosan. Apalagi, jika sang pemilik warung angkringan juga ngekos. Klop dab!

Ikut Siskamling, Jimpitan Dan Ngopi Bareng Pak RT.

Siskamling (ronda malam) identik dengan kaum laki-laki, tetapi jika perempuan ikut siskamling, yo ra masalah dab (tidak masalah)!. Selain menjaga keamanan kampung, siskamling juga mempererat hubungan antar warga, tak terkecuali anak kos. Ada manfaat ganda yang akan kalian peroleh jika aktif ikut jimpitan (siskamling). Pertama, kalian semakin kenal dan akrab dengan pak RT beserta jajarannya. Kedua, ketika keakraban terjalin, akan memudahkan kalian mengurus keperluan administrasi kependudukan dan sebagainya. Ketiga, dapat kopi gratis vroh, itupun jika ada anggaran (biasanya ada). Keempat, kalian akan mudah mengadakan kegiatan kampung karena hasil jimpitan biasanya masuk ke kas RT untuk kegiatan warga.
Meskipun warisan kolonial (katanya ronda RT itu warisan penjajah), siskamling hari ini menjadi garda terdepan dalam mengamankan warga lho.
Tepatnya, semenjak profesi hansip hilang fungsinya dari peredaran. Dan lagi, ide-ide kegiatan warga kebanyakan muncul dari aktivitas malam hari (siskamling). Daripada begadang di kamar sendirian tanpa lamunan yang jelas, ada baiknya sesekali nimbrung dengan bapak-bapak di pos ronda. Kalian akan dapat banyak informasi yang bermanfaat. Entah soal curhatan rumah tangga, kerjaan, warung makan enak atau sekedar info kos-kosan yang murah dan ibu kosnya gak galak.

Trik diatas bisa kalian coba jika masih bingung bagaimana cara bersosial dengan tetangga kos secara efektif. Itupun jika kalian mau. Jika tidak, yo terserah dab. Jika boleh kasih saran, kalian ini tetap saja makhluk sosial lho. Meskipun ngekos sendiri, bayar sendiri, hidup sendiri tapi tetap saja kalian harus bersosial. Jika masih ngotot ingin inividualis, kami juga punya saran lagi. Pasangi kamar kosmu dengan ranting pepohonan beserta sangkarnya. Biar mirip tarzan vroh. Karena bersosial adalah sebuah keharusan, maka sekali lagi kami teriakkan “anak kos sedunia, bersosial-lah”. Dengan bersosial, niscaya engkau akan menemukan kesempurnaan hidup.

Posting Komentar untuk "Anak Kos Sedunia, Bersosial-lah! Sebuah Seruan Yang Wajib Kamu Perhitungkan"