Anak Kos dan Duka-Duka Setelahnya

anakkos.com -Dalam Filsafat Sejarah Hegel, cak Hegel pernah mendefinisikan sejarah adalah sebuah gerak menuju sebuah tujuan. Ia menggunakan konsep dialektika untuk menjelaskan pandangannya itu. Dialektika adalah konsep pertentangan menuju kesatuan dimana seluruh proses yang terjadi selalu mengalami pertentangan sebelum akhirnya menuju sebuah kesatuan.

Disiplin dialektika tersebut dibagi menjadi tiga, pertama tesis, kedua antitesis kemudian tahap ketiga sintesis sebagai kesatuan atau yang mendamaikan. Untuk yang ini jangan dihapus ya mas redaktur, biar agak keren tulisanya bawa-bawa nama si Hegel.

suka duka anak kost


Pertama, sejarah singkat  anak kos. Konsekuensi merantau salah satunya adalah menjadi anak kos, masa dimana perantau harus selalu baik-baik saja, menolak galau, menolak sambat. Setelah terjadinya benturan kehidupan yang cukup melelahkan, misalnya benturan antar kemalasan dan ocehan tetangga dikampung halaman, yang kemudian membawa kita menjadi anak rantau yang puncaknya adalah menjadi anak kos dan duka-duka turunanya. Mungkin  Ini kalo ditelusuri ada hubunganya dengan filsafat sejarah cak Hegel diatas.

Mandiri Itu wajib

Duka terbesar anak kos mungkin adalah harus mandiri, karena jauh dari orang tua, sanak saudara dan jauh dari nasib baik. Jangankan dalam perbuatan, anak kos haruslah mandiri sejak dalam pikiran. Dari hal yang sangat penting sampai hal yang nggak penting-penting amat, dari soal makan sampai soal tidur, mulai terbit matahari sampai terbit matahari lagi. Adalah dosa besar kalau anak kos berpikiran makan tertib pada waktunya.

Karena anak kos yang baik, adalah anak kos yang nggak muluk-muluk, yang lebih mementingkan kenyang daripada gizi, yang lebih memilih murah daripada mewah.

Minggu itu musibah

Hari-hari diperantauan merupakan hari-hari paling berat, paling greget dalam sejarah kehidupan anak kos, namun hari terberat anak kos adalah hari minggu, kenapa hari minggu? Karena hari minggu adalah hari dimana si pacar manjanya minta ampun, malem minggunya ngajak makan malem bareng, nonton bioskop bareng, bahkan dituntut mendengarkan curhatan masalah si pacar yang sebenarnya  masalahnya sama. Bayangkan pengeluaran anak kos dimalem minggu makan dobel, minum dobel, bensin dobel, bahkan masalahpun dobel.

Berbeda halnya dengan si jomblo, mungkin penulis dan mas redaktur masuk pada golongan ini, yang kerjaanya malem minggu adalah menghibur lapar dan menghibur sepi, melewati ratusan malam minggu dengan PS dan nonton film di laptop, mentok- mentok cari gratisan kopi. ‘’Itu mah kamu aja,’’ jawab redaktur disana.

Pulang malu nggak pulang rindu

Rindu rumah merupakan hal yang lumrah bagi anak kos, bukan rindu pengen ketemu keluarga melainkan rindu sarapan diwaktu pagi (bukan sarapan di waktu siang atau malam), juga sebagai sarana perbaikan gizi. Karena pulang kampung merupakan tempat pembuktian menjadi pemenang atau pecundang, pemenang dalam artian ada sesuatu yang dibanggakan dan disombongkan, dan pecundang dalam artian orang-orang yang lelah dihantam kenyataan hidup.

Nah, maka dari itu anak kos harus mempunyai alasan yang kuat untuk pulang, dan siap dengan pertanyaan pertanyaan jahat tetangga, misalnya, kapan lulus? Kok tambah kurus?. Kebanyakan anak kos sangatlah pengen pulang, untuk sedikit mengurangi beban hidup, namun beban moral yang dibawa anak kos lebih berat dari pada rindu kampung halaman, dan memilih menunda kepulanganya dengan pertimbangan waktu, dalil-dalil pembelaan dan isi dompet yang mencukupi tentunya.

Nah, masuk akhir babak dari duka-duka anak kos dalam tulisan ini, duka anak kos yang terakhir ini merupakan duka yang sangat fatal, yang mampu menyerang lahir batin anak kos, meliputi psikolog, spiritual anak kos, duka yang terakir anak kos adalah berpikir menjadi anak rumahan, karena hal itu sama artinya dengan mengharapkan Chelsea Islan ngajak malam mingguan bareng kamu, alias nggak mungkin terjadi.

Karena katanya tulisan yang bagus adalah tulisan yang ilmiah, dan tulisan yang ilmiah adalah tulisan yang mempunyai kesimpulan, maka kesimpulan dari tulisan ini adalah, “Anak kos itu kiri” karena resiko menjadi anak kos hampir seimbang dengan berjihad.