Hasil Resume Sosialisasi Virus Corona

Sosialisasi Corona - Ruang aula Stikes Muhammadiyah Gombong pada hari Rabu, 18/3/2020, tampak penuh. Puluhan orang dari berbagai kalangan, dengan wajah sama-sama ditutupi kain masker, duduk penuh antusias mendengarkan pemaparan direktur PKU Muhammadiyah Gombong yang juga merupakan anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dr. Ibnu Nasr Arrochimi, mengenai seluk-beluk virus Covid-19 atau Virus Corona. Sebagian dari mereka tampak tegang dan takut, tapi ada juga yang rileks dan biasa-biasa saja.

Sosialisasi Virus Corona


Setiap orang memang memiliki sikap yang beragam terkait penyebaran wabah Corona yang berasal-usul dari Wuhan dan sampai saat ini kian tidak terkendali serta menyebabkan jatuhnya jumlah korban yang terus bertambah. Virus ini kian menghawatirkan karena belum ditemukannya obat atau vaksin meskipun para ilmuwan di seluruh dunia terus berusaha untuk menemukan dan membuat vaksin penangkalnya.

Meski masih belum ditemukan vaksin penangkalnya, masyarakat memang sudah seharusnya membuat langkah-langkah preventif untuk menangkal kian luasnya penyebaran wabah ini. Berdasarkan pemaparan dr. Ibnu, setidaknya ada beberapa poin yang penting diperhatikan oleh masyarakat.

Pertama, virus ini sifatnya seperti lemak atau gajih. Ia menempel pada permukaan setiap benda dan memiliki massa lebih berat dibanding beberapa virus lainnya sehingga penyebarannya tidak melalui udara. Karena sifatnya seperti gajih, maka virus ini bisa dihilangkan dan mati dengan mencuci tangan pakai sabun mandi atau sabun cuci baju. Penggunaan antiseptic atau handsanitizer yang harganya kian mahal itu diperlukan terutama oleh tenaga medis atau ketika kita berada di suatu tempat yang tidak memungkinkan kita cuci tangan dengan sabun dalam waktu yang cepat.

Kedua, cuci tangan harus dilakukan setidaknya dalam lima keadaan; (1) Sebelum makan; (2) Sesudah makan; (3) Setelah dari toilet/kamar mandi; (4) Setelah menyentuh atau bersinggungan dengan benda yang berada di tempat umum seperti ATM; (5) Setelah bersalaman atau bersentuhan dengan orang lain dan, (6) Setelah berkunjung dari rumah sakit. Durasi waktu cuci tangan maksimal 25 detik dan dibilas sampai bersih.

Ketiga, penggunaan masker yang harganya juga kian mahal hanya diperlukan antara lain; (1) Ketika kita berada di tempat keramaian yang menyebabkan jarak kita dengan orang lain begitu dekat, kurang dari satu meter; (2) Ketika hendak berkunjung ke rumah sakit; (3) Ketika hendak naik angkutan umum; (4) Ketika hendak bepergian ke luar daerah. Masker tidak terlalu diperlukan kalau kita tidak memiliki mobilisasi tinggi atau lebih banyak berdiam di rumah. Kecuali kalau memang ada anggota keluarga yang sedang sakit seperti flu, demam dan sebagainya. Setelah kita bepergian dari suatu tempat, maka sebaiknya kita mandi besar meskipun tidak sedang junub…hehe. Terutama setelah kita berkunjung ke rumah sakit atau daerah yang ditengarai ada pasien penderita coronanya.

Keempat, sebagai tindakan pencegahan, kita perlu meningkatkan imunitas tubuh dengan cara; 91) Jaga kesehatan tubuh dan lingkungan sekitar; (2) Banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung gizi dan vitamin; (3) Biasakan minum air hangat di pagi hari dan berkumur dengan air garam menjelang tidur dan di pagi hari; (4) Senantiasa mencuci muka menggunakan sabun, termasuk sebelum berwudhu; (5) Berolah raga dan berjemur di pagi hari selama 15-30 menit dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh; (6) Minum jamu empon-empon baik sebagai upaya meningkatkan imunitas tubuh tapi bukan sebagai vaksin atas virus corona karena para ilmuwan sampai hari ini belum menemukan vaksinnya dan masih berusaha melakukan penelitian. Demikian resume dari sosialisasi antisipasi Covid-19.

Sosialisasi Corona, Antara yang Baka dan yang Abadi


Selain memperhatikan pemaparan seputar corona menurut ahlinya di atas, al-faqir menilai bahwa kita juga perlu membangun mindset yang lain pada diri sendiri dan juga pada orang lain di sekitar kita terkait dengan virus ini. Kita tahu bahwa tidak sedikit orang yang panik soal virus ini. Dilihat dari jumlah pasien yang masuk kategori Pasein Dalam Pengawasan/Penanganan (PDP), Indonesia memang terbilang cukup besar. Angka ini bisa terus bertambah selama kita tidak berupaya untuk melakukan pencegahan secara bersama-sama dengan melakukan beberapa hal yang sudah dipaparkan oleh dokter di atas.

Namun demikian, ketakutan kepada corona juga perlu disikapi sebagaimana layaknya kita sebagai hamba Tuhan. Apa pun adanya, corona juga adalah makhluk. Karena itu, ia pasti memiliki limit, batas, dan suatu saat juga akan rapuh dan sirna sebagaimana sifat ini wajib ada pada diri setiap makhluk ciptaan. Maka benarlah Tuhan berfirman, “Segala sesuatu (yang bernama makhluk) akan sirna, kecuali keagungan Tuhan saja yang kekal.” Kullu man ‘alaihaa faan, wa yabqaa wajhu rabbika dzul jalaali wal ikraam.” Selain itu, kita juga perlu berdoa dan yakin bahwa suatu ketika para ilmuwan itu akan berhasil menemukan vaksin untuk virus penyakit ini. Sebab “setiap penyakit telah disediakan obat-nya.” Likulli daa-in dawaa-un. dalam hadis Nabi Saw.

Corona itu adalah ciptaan Tuhan, ditakdirkan oleh Tuhan untuk menyerang manusia dan oleh kuasa Tuhan juga ia akan musnah. Di satu sisi, corona memang mendatangkan kerugian bagi manusia, tetapi di sisi yang lain ia justru ‘menguntungkan’ bagi alam dan lingkungan. Ketika berbagai negara telah melakukan karantina massal kepada warganya, kita bisa melihat banyak kota-kota yang awalnya padat dan macet menjadi sunyi dan lengang, pabrik-pabrik untuk sementara berhenti beroprasi. Apa dampaknya bagi alam? Tentu saja polusi udara akibat kemacetan dan cerobong pabrik menjadi menurun. Udara perlahan bersih, lingkungan jadi bersih. Bila demikian, benarlah Tuhan berfirman, “…tiada satu pun ciptaan Tuhan yang sia-sia.” Rabbanaa maa khalaqta haaza baathilan.

Tak hanya itu, virus corona yang ukurannya kecil itu dalam sekejap waktu mampu memporak-porandakan tata kehidupan masyarakat di seluruh dunia. Italia yang merupakan negara terkuat dalam dunia medisnya justru menjadi negara yang terpapar dalam jumlah yang besar setelah Cina. Lalu Amerika, Iran, dan beberapa negara hebat lainnya juga terpapar. Rakyat jelata, pejabat tinggi hingga artis yang sangat mungkin kehidupan mereka sangat higenis pun tak luput dari virus ini. Virus ini tak mengenal kasta dan pangkat, sebagaimana juga Tuhan yang tak memperhatikan kasta, jabatan atau pangkat manusia selain takwa dan amal mereka.

Lalu apa arti dari semua ini? Tentu saja ini hanyalah satu dari sekian banyak bukti betapa di dunia ini yang Maha dan Adikuasa itu hanya Tuhan, bukan negara, bukan ilmu, bukan manusia. Tuhan tak perlu menciptakan bom dan nuklir super besar untuk mengacaukan umat manusia di seluruh dunia, melainkan cukup dengan sebutir virus yang kecil tak kasat mata. Maka, di hadapan semua peristiwa ini, kita memang hanya sebutir debu yang lemah dan tak berdaya.

Terhadap virus corona, kita memang tidak perlu terlalu paranoid (takut berlebihan) namun juga jangan terlalu percaya diri dan berani. Ambillah sikap tengah-tengah karena sebaik-baik perkara adalah yang tengah-tengah (khairul umuur awsaathuhaa). Ketika lembaga seperti Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa bolehnya mengganti salat Jum’at dengan salat Dhuhur di rumah, maka jangan tanggapi dengan sikap tergesa-gesa. Pahami konteksnya bahwa fatwa itu adalah tindakan preventif semata dan sebuah fatwa sifatnya tidaklah mengikat secara penuh melainkan bisa ditangguhkan dan diabaikan tanpa menimbulkan konsekuensi hukum apa-apa.

Sebagai contoh. Kalau si A positif corona maka biar tidak menulari yang lain ia sebaiknya salat di rumah, termasuk salat Jum’atnya. Demikian pula kalau di suatu masjid dan lingkungan sekitarnya sudah diputuskan oleh pihak yang berwenang sebagai kawasan yang banyak tersebar virus coronanya sementara itu masjid adalah satu-satunya masjid yang digunakan oleh warga di daerah itu, maka warga perlu mengikuti fatwa ini. Fatwa seperti itu bisa berlaku bagi suatu daerah tapi bisa tidak berlaku dengan daerah lain. Karena itu jangan tergesa-gesa menanggapi fatwa tersebut. Dasar fatwa itu adalah; menghindari kemungkinan tertimpanya keburukan harus didahulukan daripada melakukan kebaikan atau Dar-ul mafaasidi muqaddamun alaa jalbil mashaalih.

Itulah landasan hukum usul fikih-nya yang dulu sudah dirancang antara lain oleh Imam Syafi’ie, seorang ulama besar, hafal Qur’an dan tafsirnya, hafal ribuan hadis dan kadar keilmuannya sudah pasti lebih tinggi dari saya dan Anda. Jadi bagaimana mungkin saya atau Anda yang hanya hafal beberapa biji ayat dan hadis meremehkan kaidah beliau yang notabene dia bukan hanya lebih pintar dari saya dan Anda tapi juga pasti lebih salih dan lebih khusyuk. MUI mengeluarkan fatwa preventif tersebut sudah pasti berdasarkan salah satu kaidah ushul ini.

Satu hal lagi, bahwa di media sosial saat ini sudah marak tersebar pendapat (bukan fatwa) Al-Kuri, seorang ulama Mauritania, yang di-framing sedemikian rupa oleh beberapa pihak hingga pendapatnya itu seakan terkesan menentang fatwa MUI terkait soal corona. Lalu dihadirkanlah kaidah bahwa dalam keadaan perang salat Jum’at tidak ditinggalkan. Dalil itu memang benar. Tapi perang, musuh yang dihadapi jelas bentuknya dan biasanya, dalam tarikh, dalam keadaan perang itu tidak semuanya salat, melainkan ada yang berjaga di belakang sebagai pengaman. Setelah itu ganti mereka yang salat. Sementara corona beda situasinya dengan perang.

Selain itu, dengan mengacu kepada pendapat Al-Kury, untuk soal corona, juga diusulkanlah taubat sebagai bagian penangkal dari corona sebab corona dinilai sebagai siksa bagi manusia yang durhaka. Andai benar itu siksa bagi yang durhaka, mengapa Arab yang Islamis juga terimbas. Bukan hanya Cina yang komunis. Oleh sebab itu, penting dicatat bahwa setiap kejadian buruk yang menimpa manusia, tidak semuanya bermakna siksa atau bukan siksa sama sekali, melainkan hanya mengandung potensi-potensi besar akan adanya siksa. Pihak yang paling kompeten menilai apakah itu siksa atau bukan jelas bukan kita, melainkan Allah sendiri. Itu sebabnya Qur’an menyebut beberapa istilah seperti musibah, azab, sayyiah, bala’, fitnah, ‘iqab, laknat dan sebagainya.

Apakah corona kemudian harus benar-benar dianggap sebagai siksaan? Hanya Allah yang Maha Tahu dan berhak menentukan. Apakah corona itu benar-benar merupakan siksaan bagi orang Wuhan, Iran, Arab, Indonesia dan beberapa negara lainnya? Wallahu A’lam. Kita tidak tahu sehingga kurang bijak mengatakan itu siksa bagi mereka. Sebab siapa yang akan menduga bahwa akibat kejadian corona ini, nanti akan ada penduduk Wuhan dan negara lainnya yang kerap dengan geram kita teriaki kafir itu lalu beriman kepada Allah, memeluk Islam dan sebagainya. Toh, mereka juga makhluk Allah sendiri dan hanya Dia yang mengetahui maksud di balik disebarkannya virus corona di negara mereka.

Kita hanya perlu merunduk dan berharap pertolongan kepada Allah Swt sambil juga melantunkan doa, “Ya, Allah! Atas peristiwa ini, jadikanlah orang-orang Wuhan, Indonesia dan juga orang-orang lain di seluruh dunia, yang semula ingkar kepada-Mu, menjadi sadar dan taat beriman kepadaMu. Ya, Allah! Sebagaimana mudahnya bagiMu mencipta virus berbahaya ini, maka mudahkanlah kami untuk menemukan penangkalnya. DariMu virus ini berasal dan sebabMu juga virus ini binasa. Selamatkanlah kami semua dari marabahaya yang kami sendiri tidak memiliki perlindungan selain berlindung kepadaMu. Amin.” Dengan begitu, kan adem…!!
sumber: facebook/Salman Rusydie Anwar